The power of phone

Disudut kota membakar sebatang rokok sambil meneguk segelas kopi panas. Membuka handphone, adakah notif yang singgah?
Ternyata sama saja, sepi.
Membuka sosial media dan apa yang didapat sama sepi.
Manusia diberikan kemudahan dalam berkomunikasi, namun semakin jauh.
Ya, benar. Idealnya dengan alat komunikasi mempermudah menyapa yang jauh untuk semakin mendekat. Dan yang dekat semakin erat. Dan realitanya?
Kita hanya dijadikan menjadi manusia yang apatis, yang tidak peka atas apa yang terjadi. Menjadikan duka sebagai objek sosial media untuk mendapat like dan comment. Iba hanya dari beberapa orang dan selebihnya kemana?
Mereka hanya menjadi subjek dalam postingan-postingan mu. Tanpa tau seberapa sedih, duka, suka bahkan seberapa bahagianya pun engkau.

Pola manusia saat ini adalah generasi menunduk, yang setiap saat adalah hp yang menjadi prioritas utama dalam hidup. Semua menjadi "the power of phone" mau apapun sekarang mudah.
Cukup browsing dan selesai.

Tegur dan sapa hanyalah sebuah kiasan atau formalitas semata. Jika butuh mendekat. Jika tak butuh, membuka contact nya pun enggan kita lakukan.

Aku cukup bahagia pada masa kecilku tanpa sebuah HP, dimana setiap pertemuan kami bercanda tawa membahas kejadian-kejadian yang di alamai menjadi sebuah sharing dalam pertemuan itu. Mendapat pengalaman baru tentunya. Namun masa ku kini berbeda, pertemuan yang di rancang sejak jauh sebelumnya menjadi hambar karna sebuah HP. Ya benar, hanya 10 menit pertama kita hangat. Mulai dari tegur sapa, tanya jawab dan foto-foto, selebihnya semua sibuk memegang hp masing2 dan mengupload foto di sosial medianya masing2. Hening dan dingin. Hanya beberapa yang kadang bertegur sapa, itu karena hp mereka tidak sanggup mendownload beberapa aplikasi (alias memiliki ram yg minim).
Hingga di salah satu postingan sebuah akun yang membahas sebuah anak yang di sebuah pada mata pelajara "A" sekolah "B"  ditanya oleh seorang guru "ingin menjadi apa?" dan si anak menjawab ingin menjadi sebuah HP. Dengan alasan yang logic yaitu krn orang tuanya setiap senggang hanya menatap HP. Sedih jelas tergambar di wajah anak tersebut ketika menceritakan didepan kelasnya. Hati teriris dan air mata jatuh begitu saja.
Kecanggihan zaman dapat kita ikuti, tapi proses sosialisasi sesama jangan lah hilang begitu saja.
Kembali lagi aku meneguk segelas kopi yang masih hagat di gelasku sambil menatap sepasang kekasih yang sedang asik bermain HP. Namun si wanita melirik HP kekasihnya sambil bertanya "apakah bos mu menghubungi mu?" dan kekasihnya menjawab "tidak, ada apa?" si wanita melanjutkan mengapa kau terus memandangi HP mu, padahal ada aku di sini. Apakah HP mu sebegitu oentingnya hingga kau lupa untuk menanyakan hasil interview ku kemarin. Mendadak si lelaki menaruh HP dan menatap kekasihnya dan berkata "sayang, maafkan aku karena kurang peka terhadap hasil interview mu kemarin. Jangan sedih lagi ya (sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi kekasihnya).
Tak terasa rokok pun telah habis ku hisap. Banyak kisah yang belum terungkap dari sebuah telepon genggam dengan sejuta kecanggihannya. Dan sudah cukup waktu ku habiskan di sebuah kedai nan sejuk ini. Akan ku lanjutkan kembali langkah ku. Ke sudut kota mana lagi angin akan membawa ku melangkah dan menemukan sebuah realita baru.

Comments

Popular Posts