Hingar bingar
Menepi di sebuah sudut ibukota, merasakan hingar bingar disekitar.
Memandangi lalulalang kendaraan hingga manusia.
Terasa penat dan membosankan.
Beralih ke sudut desa, merasakan keramahan dan teduh.
Melihat masyarakat yang saling tegur sapa jika berpapasan.
Senyum yang tulus terpancar, mata yang syahdu memandang. Membuat hati menjadi tentram.
Terkadang, masyarakat di perkotaan kerap kali angkuh dan terbilang sangat cuek.
Rutinitas yang padat menjadikan mereka kurang dalam bersosialisasi terhadap lingkungan.
Sikap apatis terhadap tetangga, menimbulkan ketidak harmonisan dalam bermasyarakat.
Namun, bagaimana dengan orang desa yang datang mengadu nasib ke ibu kota.
Jelas lah terlihat, lambat laun mereka akan memiliki sikap yang sama dengan masyarakat kota. Kembali kepada padatnya rutinitas yang menjadikan mereka apatis. Lelah di tempat kerja, sampai rumah yang di tuju hanyalah istirahat. Karena keesokan harinya mereka harus kembali ke tempat mereka mencari nafkah.
Waktu yang dapat mereka manfaatkan terkadang hanya sabtu minggu. Itu pun jikalau di tempat kerja mereka hanya 5 hari kerja. Bagaimana dengan mereka yang masuk 6 hari kerja?
Mereka hanya memiliki 1 hari kebebasan. Dan pastinya di gunakan untuk membenahi isi rumah, entah baju kotor atau mereka total dalam beristirahat.
Kerap kali manusia di kota di kategorikan sebagai robot, yang kebebasannya benar- benar di rampas oleh sebuah perusahaan.
Tapi, itulah pilihan dalam hidup, harus bertahan atau membuat gebrakan dalam hidup.
Penatnya ibu kota yang tak tertandingi.
Kau harus jadi arang atau jadi abu?
Hanya itu pilihannya.
Tapi, bawalah segala sesuatunya kedalam doa. Agar terasa lebih ringan dan tentram.
Kelak, usaha tidak akan menghianati hasil.
Karena kau harus menjadi seseorang yang ramah dan bijaksana.
Comments
Post a Comment