Jiwa yang Kosong
Rindang pohon disebrang taman, ku hampiri dan duduk disana. Sejuk udara kurasa. Menikmati sejuknya hembusan angin yang menghibur kekosongan ini.
Disebrang sana ada sebuah taman bermain yang di penuhi anak balita hingga setengah dewasa. Mereka asik bermain tanpa ada beban yang mereka fikirkan.
Tawa dan keceriaan itu mengusikku, tau kenapa?
Karena aku iri, kenapa aku tak bisa seperti mereka yang begitu riang menikmati permain yang sederhana.
Terkadang terbesit di fikiran ku, apakah aku kurang bersyukur?
Apakah hidup ini terlalu monoton, atau
Memang aku yang sulit untuk menerima keceriaan itu!
Tak sampai disitu, burung yang singgah di pohon yang menjadi sandaran ku ikut bernyanyi. Seperti saling menyapa diantara mereka.
Aku masih merasa terganggu, sedang burung saja masih mampu ceria, padahal ia terbang di bawah terik mentari.
Aku ingin menuliskan sebuah kata dibawah pohon rindang, kata yang mewakili sebuah isi hati, yang mungkin kalian akan menganggap itu sebuah kebodohan atau mungkin hanya bagus di olok-olokkan.
Ketahuilah, jika hati yang kosong masih mampu di isi dengan kasih atau cinta. Sedangkan jiwa yang kosong tak akan mampu di isi oleh sebuah semangat. Ketika jiwa yang kosong tak mampu menarik sebuah semangat, yang hadir justru sebuah keputusasaan.
Kalian tak mengerti, ini bukan tentang bangkit untuk pulih. Ini sudah berada di titik untuk lenyap. Tak mampu di sandarkan bahkan sudah seperti lilin yang mencair.
Bagaimana bisa jiwa yang kosong tersenyum?
Bagaimana bisa kehampaan di gantikan dengan sebuah cinta.
Entah bermula dari mana harus di coba?
Karna jiwa ini bagaikan plastik yang hanya di isi angin. Jika terkena benda tajam, plastik itu akan kempes dan angin pun pergi.
Berapa banyak kata yang harus di ucapkan.
Itu tak cukup membantu mengembalikan kesedia kala.
Jika jiwa yang kosong mampu tersenyum, itu hanya senyum kepalsuan.
Jika jiwa yang kosong itu tertawa, itu adalah sebuah usaha menghargai sekitar.
Ya, semua masih terasa kosong.
Comments
Post a Comment