PERUBAHAN YANG KU HARAPKAN, PERPISAHAN YANG KAU INGINKAN
Part
1. Kegelisahan Seorang Istri
Semua berawal dari perlakuannya
yang perlahan semakin hari semakin dingin terlebih semakin kasar. Awalya ku
fikir suamiku memiliki masalah dipekerjaannya yang cukup padat atau jalanan menuju
rumah terlalu macet sehingga membuatnya kesal. Semakin hari prilakunya semakin
tidak karuan, hingga suatu hari aku mengajaknya berbicara berdua. Aku berniat
untuk berbagi kegelisahan atau masalahnya bersamaku, karena itulah tugas seorang
istri sesungguhnya. Meski aku kadang lelah dengan mengurus pekerjaan rumah dan
ke tiga putra ku, terlebih lagi aku bekerja juga di perusahaan milik ayahku. Beruntungnya
adalah waktu dapat ku atur sendiri, jadi aku mengutamakan ke 3 putraku barulah
berangkat ke kantor.
Hari dimana aku hendak mengajak suamiku untuk berbicara akan sikapnya yang sungguh aneh pun tiba. Aku “pah, aku mau tanya?” suamiku menjawab “iya ma, ada apa? Dengan nada agak ketus”.
Kemudian
kulanjutkan, apakah beberapa minggu terakhir ini pekerjaan mu sangat lah padat?
Tidak,
jawab suamiku. Aku berfikir ada yang
aneh, mengapa sikapnya beberapa pekan ini sunguh aneh (dalam hati ku ucapkan). Kemudian
ku lanjutkan, apakah kau memiliki masalah yang mengganggu pikiranmu? Tanyaku. Dan
dengan muka yang serius suamiku berkata kau kenapa pa? kau curiga sama ku? Atau
kau sedang menuduhku! Dengan nada yang
semakin lama semakin meninggi hingga aku ragu melanjutkan pertanyaan ku kepadanya.
Aku
pergi kedapur untuk membuatkan secangkir kopi, agar pembicaraan kami mencair
dan tidak menegangkan. Setelah kopi selesai ku buat, kuantarkan ke kamar dengan
harapan aku akan memperoleh senyum di wajahnya. Pa, ini kopi untukmu kataku. Dengan
mata yang penuh amarah, ia tidak mengambil kopi itu dari tangan ku, justru ia
menepis tangan ku hingga cangkir kopi itu terjatuh. Aku kaget dan takut, tapi
aku marah padanya. Mengapa niat ku ini justru mendapat perlakuan seperti itu. Aku
tak sadar air mataku pun turun ke pipi.
Suara
cangkir kopi itu menarik perhatian ke 3 putraku, dengan tergesa-gesa mereka
bertiga langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk atau pun meminta izin
masuk. Pintu terbuka dan putra sulungku bertanya “ada apa ma?”. Melihat air
mataku putra sulungku langsung memelukku serta menghapus air mataku. Aku terkejut
dengan teriakkan putra ku “apa PAPA yang papa lakukan pada mama? Dan suami ku
terdiam dengan penuh amarah. Melihat sikap putra ku sontak aku terdiam dan
langsung memeluk anakku dan membawanya keluar dari kamar itu. Sepanjang jalan
menuju kamar, aku memberikan pemahaman ke pada ke tiga putraku bahwa aku
terjatuh ketika sedang membawa kopi tersebut. Nak, mama menagis karna kaki mama
sakit pada saat terjatuh tadi. Bukan karena papa kalian. Sesampainya dikamar, putra
bungsuku berkata “ma, kalo mama sedih. Mama boleh cerita sama kami (dengan nada
bicara nya yang cadel)” dan aku membalas dengan ceria “iya dong, pastinya. Ya sudah
kalian bertiga tidur, besok bagun pagi ya. Takut kesiangan nanti, mama harus
membereskan cangkir kopi yang tadi jatuh” tak lama aku mengecup jidat ketiga
putraku dan menyelimuti mereka.
Bergegas
aku kembali ke kamar untuk membereskan pecahan cangkir kopi tersebut, sambal memanggi
asistent rumah tangga untuk membawakan alat kebersihannya. Ku pungut satu persatu
pecahan cangkir itu, hingga tiba asistent rumah tangga ku membawakan kain pel
dan skop serta sapu. Suami ku hanya terdiam melihat kami melakukan hal
tersebut. Setelah selesai aku menutup pintu dan duduk untuk beristirahat
sebentar di tepi tempat tidur, sedangkan suami ku hanya terpaku kepada handphone
nya.
Suami
ku sadar kalo aku sedang memperhatikannya dari tepi tempat tidur dan berkata “ngapain
kau liat aku seperti itu?” dan lamunan ku pecah karna kata-katanya. Tidak,
hanya saja kau lebih mengutamakan handphone mu sekarang “kata ku.
Kau
tau, kau saja belum bisa jadi istri yang baik. Bahkan mendidik anak pun tak
becus ucap suami ku. Seperti di sambar petir, aku benar-benar sakit hati atas
ucapannya. Apa maksud mu berkata demikian pa“tanya ku. Membersihkan cangkir saja
harus di bantu ART? HAH, tidak berguna. Dan apa yang kau ajarkan pada putra
sulung kita? Kau mengajarkan agar ia membentakku? Tak memiliki sopan santun! “ucap
suami ku kembali.
Kata-katanya
sangat menampar ku, aku layaknya seperti wanita yang tidak berguna. Tak sadar
airmata ku kembali jatuh. Dengan suara yang gemetar aku bertanya padanya “apa
maksud kata-katamu? Aku tidak pernah sedikit pun mendidik anak ku untuk berlaku
demikian, itu hanyalah reflex seorang anak melihat ibunya mengnagis dan tadi
hanya ada kita berdua”
Dengan
nada berteriak suamiku berkata “DIAM”dan tamparan melayang dipipiku. Hanya tangis
yang keluar dari mulutku.
Tanpa
kami berdua sadari, ternyata putra sulungku sudah berdiri didepan pintu kamar
dan melihat kejadian tersebut. Putra ku lari dan mendorong papanya dan berkata “JAHAT,
papa jahat. Kenapa papa memukul mama? Papa Jahattttt…… hanya isak tangis yang
keluar dari mulut ku, karna ini kali pertama ada orang yang menamparku, padahal
kedua orang tua ku pun tak pernah melakukan itu.
Suami
ku mendorong putranya dan berkata “pergi kau, anak kecil ngak usah ikut campur”.
Aku berteriak “jangan sentuh dia”dan justru suami ku semakin kesetanan sekali
lagi menamparku dan meningalkan kamar. Aku menangis dan memeluk putra ku.
Bebrapa
menit kemudian aku sedikit tenang dan berkata kepada putra ku “nak, jangan
ceritakan kejadian ini kepada siapapun ya. Termasuk adik dan kakek nenek, janji
ya. Dan anak ku hanya mengaggukan kepalanya (menandakan iya) dan mmemelukku
kembali.
Aku
mengantarkan putra ku untuk kembali kekamarnya sambil melihat, apakah ke 2
putraku terlelap. Setelah mengecup kening putra ku, aku kembali kekamar dan ku
dapati kamar tanpa suamiku. Aku hanya berfikir, suami ku sedang menenangkan
dirinya atas apa yang tadi terjadi. Mencuci muka dan berdoa, berharap Tuhan
menjamah hati suami ku dan tetap memberkati pernikahan kami.
Comments
Post a Comment