PERUBAHAN YANG KU HARAPKAN, PERPISAHAN YANG KAU INGINKAN



Part 1. Kegelisahan Seorang Istri

Aku adalah ibu sekaligus ayah dari ke 3 putraku kini. Awalnya hidupku sangatlah bahagia dengan kelarga kecilku, namun semuanya hancur oleh karena seorang “pelakor” (perebut laki orang). Keharmonisan keluarga merupakan harapan bagi semua keluarga diseluruh dunia, begitu pun saya. 
Semua berawal dari perlakuannya yang perlahan semakin hari semakin dingin terlebih semakin kasar. Awalya ku fikir suamiku memiliki masalah dipekerjaannya yang cukup padat atau jalanan menuju rumah terlalu macet sehingga membuatnya kesal. Semakin hari prilakunya semakin tidak karuan, hingga suatu hari aku mengajaknya berbicara berdua. Aku berniat untuk berbagi kegelisahan atau masalahnya bersamaku, karena itulah tugas seorang istri sesungguhnya. Meski aku kadang lelah dengan mengurus pekerjaan rumah dan ke tiga putra ku, terlebih lagi aku bekerja juga di perusahaan milik ayahku. Beruntungnya adalah waktu dapat ku atur sendiri, jadi aku mengutamakan ke 3 putraku barulah berangkat ke kantor.

Hari dimana aku hendak mengajak suamiku untuk berbicara akan sikapnya yang sungguh aneh pun tiba. Aku “pah, aku mau tanya?” suamiku menjawab “iya ma, ada apa? Dengan nada agak ketus”.
Kemudian kulanjutkan, apakah beberapa minggu terakhir ini pekerjaan mu sangat lah padat?
Tidak, jawab suamiku.  Aku berfikir ada yang aneh, mengapa sikapnya beberapa pekan ini sunguh aneh (dalam hati ku ucapkan). Kemudian ku lanjutkan, apakah kau memiliki masalah yang mengganggu pikiranmu? Tanyaku. Dan dengan muka yang serius suamiku berkata kau kenapa pa? kau curiga sama ku? Atau kau sedang menuduhku!  Dengan nada yang semakin lama semakin meninggi hingga aku ragu melanjutkan pertanyaan ku kepadanya.

Aku pergi kedapur untuk membuatkan secangkir kopi, agar pembicaraan kami mencair dan tidak menegangkan. Setelah kopi selesai ku buat, kuantarkan ke kamar dengan harapan aku akan memperoleh senyum di wajahnya. Pa, ini kopi untukmu kataku. Dengan mata yang penuh amarah, ia tidak mengambil kopi itu dari tangan ku, justru ia menepis tangan ku hingga cangkir kopi itu terjatuh. Aku kaget dan takut, tapi aku marah padanya. Mengapa niat ku ini justru mendapat perlakuan seperti itu. Aku tak sadar air mataku pun turun ke pipi.

Suara cangkir kopi itu menarik perhatian ke 3 putraku, dengan tergesa-gesa mereka bertiga langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk atau pun meminta izin masuk. Pintu terbuka dan putra sulungku bertanya “ada apa ma?”. Melihat air mataku putra sulungku langsung memelukku serta menghapus air mataku. Aku terkejut dengan teriakkan putra ku “apa PAPA yang papa lakukan pada mama? Dan suami ku terdiam dengan penuh amarah. Melihat sikap putra ku sontak aku terdiam dan langsung memeluk anakku dan membawanya keluar dari kamar itu. Sepanjang jalan menuju kamar, aku memberikan pemahaman ke pada ke tiga putraku bahwa aku terjatuh ketika sedang membawa kopi tersebut. Nak, mama menagis karna kaki mama sakit pada saat terjatuh tadi. Bukan karena papa kalian. Sesampainya dikamar, putra bungsuku berkata “ma, kalo mama sedih. Mama boleh cerita sama kami (dengan nada bicara nya yang cadel)” dan aku membalas dengan ceria “iya dong, pastinya. Ya sudah kalian bertiga tidur, besok bagun pagi ya. Takut kesiangan nanti, mama harus membereskan cangkir kopi yang tadi jatuh” tak lama aku mengecup jidat ketiga putraku dan menyelimuti mereka.

Bergegas aku kembali ke kamar untuk membereskan pecahan cangkir kopi tersebut, sambal memanggi asistent rumah tangga untuk membawakan alat kebersihannya. Ku pungut satu persatu pecahan cangkir itu, hingga tiba asistent rumah tangga ku membawakan kain pel dan skop serta sapu. Suami ku hanya terdiam melihat kami melakukan hal tersebut. Setelah selesai aku menutup pintu dan duduk untuk beristirahat sebentar di tepi tempat tidur, sedangkan suami ku hanya terpaku kepada handphone nya.
Suami ku sadar kalo aku sedang memperhatikannya dari tepi tempat tidur dan berkata “ngapain kau liat aku seperti itu?” dan lamunan ku pecah karna kata-katanya. Tidak, hanya saja kau lebih mengutamakan handphone mu sekarang “kata ku.
Kau tau, kau saja belum bisa jadi istri yang baik. Bahkan mendidik anak pun tak becus ucap suami ku. Seperti di sambar petir, aku benar-benar sakit hati atas ucapannya. Apa maksud mu berkata demikian pa“tanya ku. Membersihkan cangkir saja harus di bantu ART? HAH, tidak berguna. Dan apa yang kau ajarkan pada putra sulung kita? Kau mengajarkan agar ia membentakku? Tak memiliki sopan santun! “ucap suami ku kembali.
Kata-katanya sangat menampar ku, aku layaknya seperti wanita yang tidak berguna. Tak sadar airmata ku kembali jatuh. Dengan suara yang gemetar aku bertanya padanya “apa maksud kata-katamu? Aku tidak pernah sedikit pun mendidik anak ku untuk berlaku demikian, itu hanyalah reflex seorang anak melihat ibunya mengnagis dan tadi hanya ada kita berdua”

Dengan nada berteriak suamiku berkata “DIAM”dan tamparan melayang dipipiku. Hanya tangis yang keluar dari mulutku.
Tanpa kami berdua sadari, ternyata putra sulungku sudah berdiri didepan pintu kamar dan melihat kejadian tersebut. Putra ku lari dan mendorong papanya dan berkata “JAHAT, papa jahat. Kenapa papa memukul mama? Papa Jahattttt…… hanya isak tangis yang keluar dari mulut ku, karna ini kali pertama ada orang yang menamparku, padahal kedua orang tua ku pun tak pernah melakukan itu.
Suami ku mendorong putranya dan berkata “pergi kau, anak kecil ngak usah ikut campur”. Aku berteriak “jangan sentuh dia”dan justru suami ku semakin kesetanan sekali lagi menamparku dan meningalkan kamar. Aku menangis dan memeluk putra ku.
Bebrapa menit kemudian aku sedikit tenang dan berkata kepada putra ku “nak, jangan ceritakan kejadian ini kepada siapapun ya. Termasuk adik dan kakek nenek, janji ya. Dan anak ku hanya mengaggukan kepalanya (menandakan iya) dan mmemelukku kembali.

Aku mengantarkan putra ku untuk kembali kekamarnya sambil melihat, apakah ke 2 putraku terlelap. Setelah mengecup kening putra ku, aku kembali kekamar dan ku dapati kamar tanpa suamiku. Aku hanya berfikir, suami ku sedang menenangkan dirinya atas apa yang tadi terjadi. Mencuci muka dan berdoa, berharap Tuhan menjamah hati suami ku dan tetap memberkati pernikahan kami.

To be Continue ...




Comments

Popular Posts